KPK Lacak Proyek yang Digarap Simpulan Suap RTH Bandung

Laporan Wartawan Tribunnews. com, Ajaran Rian Pratama

TRIBUNNEWS. COM, JAKARTA – Tim penyidik Premi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa bekas Kepala Seksi Sertifikasi dan Dokumentasi di Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPKAD) Pemkot Bandung, Hermawan.

Ia diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Dadang Suganda dalam kasus dugaan suap terkait pengadaan tanah untuk Kawasan Terbuka Hijau (RTH) di Negeri Kota Bandung pada tahun 2012 dan 2013.

Lewat Hermawan, tim penyidik KPK berusaha melacak proyek lain yang digarap Dadang selain pengadaan tanah RTH Pemkot Bandung.

“Penyidik mendalami pengetahuan saksi mengenai adanya proyek-proyek lain selain RTH yang diduga dikerjakan oleh tersangka DS, ” tutur Plt Juru Bicara Penindakan KPK Ali Fikri dalam keterangannya, Selasa (29/9/2020).

Dalam kasus ini, KPK menjerat 4 tersangka. Itu ialah eks Kadis Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPKAD) Pemkot Bandung Hery Nurhayat, dua eks anggota DPRD Kota Bandung 2009-2014 Tomtom Dabbul Qomar dan Kewenangan Slamet, serta satu orang preman bernama Dadang Suganda.

Baca: KPK Kembali Sita Tanah Mantan Bupati Nganjuk Taufiqurrahman

Menyuarakan: Doa Qunut Subuh, Tulisan Arab dan Latin, Dilengkapi Bacaan Sholawat Nabi Muhammad SAW

Hery, Tomtom, Kadar sedang menjalani persidangan. Sementara Dadang masih tahap penyidikan. Ia baru saja ditahan penyidik pada Juni 2020 setelah ditetapkan sebagai tersangka pada 16 Oktober 2019.

Dalam proses pengadaan tanah terpaut RTH tersebut, Pemkot Bandung tak membeli langsung dari pemilik tanah, namun diduga menggunakan makelar, yakni Anggota DPRD Kota Bandung era 2009-2014 Kadar Slamet dan Dadang Suganda.

Proses pengadaan dengan perantara Dadang dilakukan meniti kedekatannya dengan Sekretaris Daerah Praja Bandung Edi Siswadi.

Edi telah divonis bersalah dalam perkara suap terhadap seorang ketua dalam terkait penanganan perkara manipulasi bantuan sosial di Pemkot Bandung.

Edi Siswadi memerintahkan Herry Nurhayat untuk membantu Dadang Suganda dalam proses pengadaan negeri tersebut.

Dadang lalu melakukan pembelian tanah pada sebanyak pemilik tanah atau ahli darah di Bandung dengan nilai lebih rendah dari NJOP setempat.

Setelah tanah tersedia, Pemkot Bandung membayarkan Rp43, 65 miliar pada Dadang.

Tetapi, Dadang hanya memberikan Rp13, 5 miliar pada pemilik tanah.

Diduga Dadang Suganda diperkaya sekitar Rp30 miliar. Sebagian sejak uang tersebut, sekitar Rp10 miliar diberikan pada Edi Siswadi dengan akhirnya digunakan untuk menyuap hakim dalam perkara bansos di Meja hijau Negeri Kota Bandung.

Updated: September 29, 2020 — 3:57 pm