Friday, September 25, 2020
Home Blog Page 2

Apa yang Terjadi pada Pesawat dengan Terbang saat Gempa Bumi Berlaku?

0

TRIBUNNEWS. COM – Penumpang pesawat mungkin tidak berpikiran jauh, apakah bencana daerah yang terjadi di daratan berpengaruh terhadap penerbangan.

Sungguh, mungkin sebagian dari traveler berpendirian bahwa perjalanan pesawat terbang aman-aman saja di udara.

Tapi rupanya tidak semuanya berlaku lancar dan aman bagi penerbangan pesawat tersebut.

Seorang pilot maskapai penerbangan dan insinyur penerbangan menjelaskan bahwa gempa bumi sebenarnya dapat menjelma berita buruk bagi sebuah penerbangan.

HALAMAN SELANJUTNYA > >

Baca: Putranya yang Berusia 2 Tahun Tidak Pakai Masker Saat Makan, Penumpang Diturunkan dari Pesawat

Baca: Adu Lagak dengan Pramugari dan Ucap Perkataan Berbau Rasial, Penumpang Diturunkan dibanding Udara

Gerak laku Kocak Lee Jin Hyuk Masa Sambal Goreng Ati Jadi Sorotan

0

TRIBUNNEWS. COM – Penyanyi asal Korea Selatan Lee Jin Hyuk belum lama tersebut menjadi bintang tamu konten YouTube hello 82.

Pada kesempatan itu, Lee Jin Hyuk ditantang memasak hidangan asal Indonesia yakni sambal goreng kentang ati.

Tentu saja tantangan itu bukan sesuatu yang mudah dilakukan bagi Lee Jin Hyuk.

Apalagi idol jebolan Produce X101 ini harus mengikuti instruksi chef yang berbicara menggunakan bahasa Indonesia.

Dalam sela-sela itu, Lee Jin Hyuk juga harus menjawab pertanyaan dibanding kru produksi dan fans.

Satu di antara perkara yang dijawab olehnya adalah soal makanan Indonesia yang dicicipinya.

Lee Jin Hyuk mengaku ingin mencicipi rendang jika berkesempatan mengunjungi Indonesia.

Halaman Kemudian

Buatan MotoGP San Marino 2020: Dikawal Sang Guru, Morbidelli Juara, Valentino Rossi Nyaris Podium

0

TRIBUNNEWS. COM – Pebalap Petronas Yamaha SRT, Franco Morbidelli, menjadi juara pada MotoGP San Marino 2020.

Franco Morbidelli meraih gelar jempolan MotoGP San Marino 2020 setelah berhasil finis tercepat pada balapan yang digelar di Sirkuit Misano, Italia, Minggu (13/9/2020) malam WIB.

Memulai balapan lantaran urutan kedua, Franco Morbidelli sukses merebut posisi terdepan sejak lap pertama.

Pebalap asal Italia sukses mempertahankan posisi terdepan hingga akhirnya finis dengan catatan waktu 40 menit 31, 524 detik.

Franco Morbidelli yang merupakan bani didik pebalap Valentino Rossi tahu ‘dikawal’ gurunya itu di kaum lap sebelum melesat tak terkejar di posisi pertama.

Sementara itu, Valentino Rossi dengan start dari urutan keempat lulus menyodok ke posisi keempat sejak awal balapan.

Baca: Valentino Rossi Temukan Sentuhan Kelincahan Motor Jelang MotoGP San Marino

Pebalap berjuluk The Doctor itu berserakan bersaing dengan Franco Morbidelli dengan memimpin balapan.

Namun, setelah sempat lama menempati urutan kedua, Valentino Rossi akhirnya kudu pasrah finis pada posisi keempat.

Pebalap veteran Yamaha itu kalah bersaing dengan pebalap Ducati, Francesco Bagnaia, yang jadi merebut posisi kedua.

Sementara itu, Valentino Rossi sebenarnya sempat menempati urutan ketiga, akan tetapi kemudian The Doctor disalip sebab pebalap Suzuki, Joan Mir, di lap terakhir.

Buatan Survei: Gejala Covid-19 pada Penderita Umumnya Berlangsung Selama Tiga Bulan

0

TRIBUNNEWS. COM – Sebuah inspeksi di Belanda menunjukkan seberapa lama gejala Covid-19 berlangsung di awak pasien.

Rupanya, biasa orang yang menunjukkan tanda-tanda Covid-19, masih memiliki gejala hampir tiga bulan kemudian.

Hanya 0, 7 persen responden yang mengatakan, mereka benar-benar bebas petunjuk 79 hari setelah terinfeksi virus.

Kejadian itu menurut penelitian yang diterbitkan pada Kamis (10/9/2020) di jurnal Riset Terbuka Masyarakat Pernafasan Eropa.

Survei tersebut merupakan yang pertama menunjukkan hanya pemulihan sebagian di antara keseluruhan sampel pasien, menurut para peneliti.

ILUSTRASI GEJALA Covid-19 – Seorang pengusaha pokok Taiwan terancam hukuman penjara ataupun denda karena menyembunyikan gejala virus corona yang dideritanya dari pihak berwajib. (Shanghaiist)

Baca: Hasil Studi: Infeksi Virus Corona yang Parah atau Mematikan Sangat Jarang Terjadi di Anak-Anak

Baca: Studi Baru: Kandidat Vaksin Covid-19 Nonaktif dari China Hasilkan Respons Kekebalan yang Kuat

Adapun survei ini melibatkan lebih dari 2. 100 orang yang sebagian besar tak dirawat di rumah sakit.

Namun mereka terkonfirmasi atau diduga mengalami Covid-19 di Belanda dan Flanders, bagian utara Belgia.

Responden melaporkan, dari tujuh gejala, rata-rata terjadi 79 hari setelah mereka pertama kala merasakan gejalan umum Covid-19 seolah-olah kelelahan dan kesulitan bernapas.

Sekitar 44 persen responden masih mengalami sesak dada, 38 persen sakit kepala, 36 persen mengalami nyeri otot, dan 33 persen mengalami nyeri di antara tulang belikat.

“Tidak seperti kelompok rawat inap yang disurvei, pasien dengan Covid-19 ‘ringan’ mendapat sedikit panduan dan sering diabaikan begitu saja, ” prawacana para peneliti, dikutip dari SCMP, Sabtu (12/9/2020).

ILUSTRASI SESAK NAFAS semrawut 7 Solusi Alami Meringankan Penuh Nafas (boldsky. com)

Baca: Hasil Menuntut: Bicara dengan Tenang dan Lebih Pelan Bisa Mengurangi Penyebaran Covid-19

Mengucapkan: Peneliti di Inggris Sebut Steroid Murah Bisa Selamatkan Pasien Covid-19 yang Sakit Parah

Janda di Sidoarjo Ditemukan Meninggal Dunia, Kaki Sudah Bengkak, Ternyata Hanya Hidup Sendirian

0

TRIBUNNEWS. COM- Kronologi kreasi jasad janda di Sidoarjo dengan ditemukan di ruang tamu rumahnya dalam kondisi sudah membengkak diungkap pihak keamanan.

Diketahui, janda tersebut bernama Irine Siska Windyastuti berusia 43 tahun.

Dia selama ini susunan sendirian di rumahnya di Perumahan Alam Juanda Blok BB/10 Sidoarjo.

Awak Irine ditemukan pada, Rabu (1/7/2020) setelah pihak keluarga dan keamanan perumahan setempat mendobrak pintu rumahnya.

Salafuddin, selaku koordinator keamanan Perum Alam Juanda mengucapkan, Rabu siang, rekan korban daripada perusahaan juga berusaha mencari.

Kemudian pihak keluarga beriringan petugas keamanan dan pihak kepolisian berusaha mendobrak rumah korban.

Baca: Buruh Penggal Mandor 8 Kali hingga Mati di Riau, Ternyata Pembunuhan Berencana Motif Dendam

Baca: Gadis SMP dalam Pringsewu Jadi Korban Pencabulan Adam yang Mengaku Intel Polisi yang Dikenalnya di FB

“Saat pintu terbuka, korban ditemukan sudah meninggal dunia, ” kata Salafuddin saat ditemui dalam TKP.

Jenazah objek ditemukan tergeletak di lantai kawasan tamu.

Kondisinya telah membengkak.

Diduga sudah beberapa hari meninggal dunia.

Temui Gugus Tugas, Pengundang Rhoma Ritme Minta Maaf Pada Bupati Bogor

0

TRIBUNNEWS. COM, BOGOR porakporanda Tampilnya Raja Dangdut H Rhoma Irama saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Proporsional di Kabupaten Bogor berbuntut panjang.

Bupati Bogor Hj Ade Yasin akan memproses pelanggaran tersebut.

Terkait dengan kejadian itu, penyelenggara acara khitanan yang dihadiri Rhoma Irama dan sejumlah penyanyi dangdut terkenal lainnya meminta maaf secara lisan kepada Bupati Bogor.

Carik Daerah (Sekda) Kabupaten Bogor Burhanudin membenarkan penyeleggara acara bernama Surya Atmaja berkunjung ke Pendopo Tumenggung di Cibinong.

Surya Atmaja datang juga untuk bertemu Gugus Tugas Covid di Gedung Setda Pemkab Bogor, Selasa (30/6/2020).

“Beliau minta maaf ke Bupati pada saat tadi dia di pendopo. Jadi tempat minta maaf ke Pemda, ” kata Burhanudin kepada wartawan.

Baca: BREAKING NEWS, Pengundang Rhoma Irama di Rencana Hajatan Diperiksa Gugus Tugas Kabupaten Enau

Baca: Rhoma Irama Mengaku Terbang Panggung untuk Tausiyah, Berpikir Sudah Tersedia Izin karena Lihat Banyak Abdi

Penyanyi Rhoma Irama tetap manggung di Pamijahan, Kabupaten Bogor biar sempat dilarang karena Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Proporsional, Minggu (28/6/2020). (istimewa) (istimewa)

Selain itu, Surya Atmaja juga sempat menjelaskan acara khitanan di zona merah corona dengan dimeriahkan para artis ibu praja tersebut.

“Tadi dia hanya menjelaskan secara lisan pada bupati, diundang bupati, dia ceritakan garis besarnya, ” kata Burhanudin.

Namun, Burhanudin mengaku masih belum bisa berkomentar penuh.

Sebab, sementara itu pemeriksaan terhadap Surya Atmaja masih berlangsung.

Patokan Menteri-menteri yang Layak Direshuffle Patuh Analisis Akademisi

0

Petunjuk Wartawan Tribunnews. com, Srihandriatmo Malau

TRIBUNNEWS. COM, JAKARTA – Guru Tumbuh Politik & Keamanan Universitas Padjadjaran, Bandung Muradi melihat Presiden Joko Widodo (Jokowi) benar-benar sangat mangkel atas kinerja dari para Gajah karena lambatnya pelaksanaan program penanganan Covid-19.

“Dalam konteks komunikasi politik, terlihat Jokowi penuh dengan kejengkelan dan kelewat kesal dengan kinerja sejak para pembantunya. Sehingga hal itu saya kira sebagai bentuk konglomerasi segala kejengkelan dan kekesalan dengan dirasakan selama kurang lebih 4 bulan dalam menangani Covid-19, ” ujar Muradi ketika dihubungi Tribunnews. com, Senin (29/6/2020).

Karena dia melihat, ada makna kebijakan yang tidak bisa ditindak-lanjuti oleh para pembantunya untuk merespon dan menangani Covid-19.

Selain terjebak birokrasi internal dalam masing-masing Kementerian kata dia, tersedia juga yang tidak bisa melaksanakan programnya karena pendekatan yang terlampau formal, dan pada akhirnya tidak tepat sasaran.

Baca: Jokowi Perlu Restart Struktur Ekonomi, Bukan Sekadar Reshuffle Kabinet

“Saya kira ini ancaman yang serius serta tidak main-main dari Pak Jokowi, ” jelas Muradi. Jadi siapa saja Menteri yang sebenarnya menjelma sasaran kemarahan Jokowi ini?

Muradi menilai, ada kira-kira menteri yang perlu merasakan tujuan kemarahan Jokowi adalah kepada dengan bersangkutan.

Membaca: Jokowi Singgung Reshuffle Kabinet, Demokrat: Jangan-jangan Cuma Pengalihan Isu

Utamanya, dia menjelaskan, kementerian yang terkait langsung dengan penanganan Covid-19.

Eric Tetteh Hampir Tewas Dibunuh Temannya Lewat Softdrink Bercampur Pecahan Botol

0

TRIBUNNEWS. COM, AFRIKA – Aksi garang menghilangkan nyawa orang lain sering dilakukan dengan cara tidak menyelap akal dan gila. Seperti perihal yang dialami pria di Siasi, Krobo Odumase, wilayah timur Ghana, Afrika, ini.

Dia nyaris tewas setelah meminum soft drink alias minuman ringan dengan diberikan oleh temannya. Ternyata minuman ringan tersebut berisi pecahan botol kaca.

Pria bertanda Eric Tetteh (30) hampir tewas dibunuh oleh temannya dengan minuman ringan berisi pecahan botol cermin, namun dia berhasil selamat.

Setelah menelan cairan dari minuman yang sudah dicampur pecahan botol kaca tersebut, Eric mengalami muntah darah.

Dia kemudian dibawa ke rumah sakit dan dirawat semasa 5 hari.

Baca: Ditetapkan Sebagai Tersangka Pembunuhan Berencana, Pembebasan Bersyarat John Kei Dicabut Kemenkumham

Baca: Tersangka Pembunuhan Dua Keponakan Tak Mengalami Gila, Mengiakan Dapat Bisikan Gaib

Eric kemudian mengetahui kalau cairan yang diminumnya mengandung potongan botol kaca setelah hasil penjagaan ke luar.

Eric dikeluarkan dari rumah sakit ketika kondisinya sudah stabil.

Dia kemudian melaporkan apa yang dia alami kepada polisi.

Pihak kepolisian berjanji akan menangkap teman Eric yang diketahui melarikan diri setelah peristiwa tersebut diliput media.

Merespons kejadian itu, Deputi Hubungan Umum dari Komando Kepolisian wilayah Timur menegaskan bahwa teman Eric dituduh telah merencanakan pembunuhan.

Tersangka memasukkan pecahan botol cermin ke dalam minuman ringan serta memberikannya pada Eric sebagai hadiah setelah keduanya merokok bersama ‘sebagai tanda damai’ dari perselisihan mereka bulan lalu. (Kompas. com/Miranti Kencana Wirawan)

Artikel ini telah membawa di Kompas. com dengan judul “Nyaris Tewas, Pria Ini Minum ‘Soft Drink’ Berisi Pecahan Botol Kaca”

Dayang John Kei Blak-blakan Ungkap Peruban Besar sang Ayah setelah Muncul dari Nusakambangan

0

TRIBUNNEWS. COM – Anak sulung John Kei, Melan Revra mengaku kaget dengan kasus yang sedang membelit papanya itu.

Hal tersebut Melan utarakan saat mengunjungi ayahnya yang pusat ditahan di Rutan Polda Metro Jaya, Jumat (26/6/2020) lalu.

Dirinya sendiri merasa tercengang dengan apa yang dilakukan John Kei.

“Mengenai berita yang ada pada belakangan ini cukup mengagetkan kami, ” ujarnya dikutip dari channel YouTube KompasTV, Sabtu (27/6/2020).

Melan melanjutkan ceritanya, zaman John Kei keluar dari Nusakambangan dirinya berharap ada perubahan lantaran sang papa.

“Kesempatan ini saya sebagai anak betul sedih di mana saat beta jemput papa dari Nusakambangan, saya mempunyai harapan yang sangat tinggi. ”

“Mengenai perubahan papa saya yang sangat bahana, ” imbuhnya.

Baca: Kabar Terbaru John Kei: Kuasa Hukum Ajukan Penangguhan Penahanan, Keluarga Jadi Jaminan

Melan menyebut selepas John Kei keluar dari penjara, tersedia sikap-sikapnya yang berbeda dari sebelumnya.

“Saat di vila, apa-apa mulai dari doa, sedia ngapain harus berdoa, sebelum tidur suangi itu kita kumpul bersama berdoa. ”

“Papa serupa mengajak kita melakukan pelayanan sejak gereja ke gereja. Jadi menanggapi kasus ini saya merasa kaget, ” tutur Melan.

ICJR Sebut 60 Terpidana Mati Tunggu Waktu Eksekusi Hingga Puluhan Tahun Lamanya

0

TRIBUNNEWS. COM, JAKARTA – Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) mencatat sebanyak 60 terpidana aniaya mati telah menunggu waktu eksekusi selama lebih dari 10 tarikh.

“Seluruh (60) benduan mati tersebut telah menunggu eksekusi dalam waktu yang cukup lama yakni lebih dari 10 tahun dengan kondisi tempat penahanan dengan buruk, ” kata Direktur Manajer ICJR Erasmus Napitupulu melalui masukan tertulis, Jumat (26/6/2020) dalam rangka memperingati Hari Internasional untuk Menjunjung Korban Penyiksaan yang jatuh pada setiap 26 Juni.

ICJR mengungkapkan, lima terpidana mati antara lain telah menunggu waktu eksekusi selama lebih dari 20 tahun.

Bahkan, seorang terpidana mati menunggu waktu eksekusi selama hampir 40 tahun lamanya.

Erasmus menuturkan, menunggui dalam waktu yang tak menentu untuk dieksekusi serta dalam tangsi yang dinilai tak layak ialah bagian dari penyiksaan.

Hal itu dikategorikan sebagai arah dari penghukuman yang kejam serta tak manusiawi.

Baca: Ingin Bebas dari Aniaya Mati, Aulia Kesuma Tulis Tulisan ke Jokowi: Jessica Kumala Wongso Disebut

Baca: Terancam Hukuman Mati Seusai Anak Buah Paman Tewas Dikeroyok, Jhon Kei Merasa Dikhianati

Menurut temuan ICJR, para napi ditempatkan dalam sel bercahaya rendah, waktu minim buat berkegiatan di luar sel, menikmati diskriminasi dan perundungan, kekerasan, dan lapas yang overkapasitas.

Kondisi itu memengaruhi kondisi mental.

Kemudian, nutrisi dengan kurang dalam makanan, tidak ada pemeriksaan medis berkala, jam besuk terbatas, akses terbatas terhadap sasaran bacaan, dan jumlah psikolog yang sangat minim.

Peristiwa tersebut, kata Erasmus, menciptakan wujud yang disebut fenomena deret nanti.